Berikut ini, tabbbayun akan menceritakan sebuat kisah yang berjudul yang cerita inspiratif tentang Nenek Pakande yang singkat. Dimana cerita ini cocok menemani anak-anak sebelum tidur.

Dahulu kala, di sebuah desa di Sulawesi Selatan, hiduplah seorang nenek tua yang dikenal sebagai Nenek Pakande.
Nenek Pakande merupakan cerita rakyat yang terkenal di kalangan suku Bugis. Namun, dalam cerita rakyat Bugis ini, Nenek Pakande digambarkan sebagai sosok yang suka memakan atau memangsa anak-anak.
Nenek Pakande, yang namanya berasal dari kata “manre'” yang berarti “makan”, digambarkan sebagai “si tukang makan”.
Cerita rakyat Nenek Pakande memiliki berbagai versi, dan berikut ini adalah salah satu versi yang dilansir dari buku “Cerita Rakyat Daerah Wajo di Sulawesi Selatan”.
Kisah Nenek Pakande dimulai dengan dua anak laki-laki bersaudara yang tinggal bersama ayah dan ibu tirinya. Anak sulung berusia 5 tahun dan adiknya berusia 2 tahun. Ayah mereka bekerja sebagai petani, sehingga ketika pergi ke kebun, kedua anak itu tinggal bersama ibu tirinya.
Sayangnya, ibu tirinya memiliki sifat jahat dan tidak menyukai kedua anak tersebut. Mereka sering kali tidak diberi makan sepanjang hari.
Ketika ayah mereka pulang, baru ibu tirinya membawa kedua anak itu ke dapur dan melumuri muka mereka dengan nasi. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan kepada ayah mereka bahwa kedua anak tersebut hanya bermain dan makan sepanjang hari.
Setiap hari, kedua anak ini mengalami hal yang sama. Suatu hari, saat mereka sedang bermain bola di depan rumah mereka, bola yang mereka mainkan tanpa sengaja masuk ke dalam rumah dan mengenai seorang tamu.
Ibu tirinya menjadi sangat marah dan berniat untuk membunuh kedua anak tersebut dan memakan hati mereka.
Ketika ayah pulang, ibu tirinya membujuk suaminya untuk turut membunuh anak-anak. Ia mengatakan bahwa kedua anak itu semakin nakal dan jahat.
Ayah mereka terpengaruh dan menarik kedua anak itu untuk dibunuh.
Peristiwa itu disaksikan oleh tetangga mereka. Salah satu tetangga kemudian mendekati mereka dan meminta agar mereka tidak membunuh anak-anak mereka sendiri di dalam rumah. Tetangga tersebut menawarkan diri untuk membawa anak-anak itu ke hutan dan membunuh mereka.
Ia mengatakan bahwa nanti ia akan membawa pulang hati mereka untuk suami istri tersebut.
Akhirnya, mereka melepaskan kedua anak itu agar dibawa ke hutan. Sesampainya di tengah hutan, tetangga tersebut merasa iba pada kedua anak tersebut.
Ia meminta anak-anak itu untuk pergi dan tidak pernah kembali lagi ke rumah tersebut. Setelah itu, tetangga itu mengambil hati binatang sebagai gantinya.
Kedua anak laki-laki itu terus berjalan hingga melewati tujuh bukit dan tujuh gunung.
Tak lama kemudian, mereka menemukan sebuah rumah tua di tengah hutan. Mereka memutuskan untuk singgah di sana dan meminta makanan.
Mereka masuk ke dalam rumah yang ternyata tidak memiliki pintu. Di dalam rumah itu, mereka melihat tulang belulang yang berserakan di lantai dan di atas meja.
Meskipun mereka merasa takut, rasa lapar yang begitu kuat membuat mereka mencari pemilik rumah. Namun, mereka tidak menemukan siapa pun di dalam rumah tersebut.
Mereka lalu pergi ke dapur dan menemukan berbagai makanan yang tersimpan di sana.
Dalam keadaan lapar yang sangat, mereka memberanikan diri untuk mengambil makanan dan menyantapnya dengan lahap.
Saat malam menjelang, tiba-tiba terdengar suara menggelegar seperti guntur. Kedua anak itu kaget dan ketakutan.
“Hmm… ada yang berbau manusia!” suara itu menggelegar.
Barulah saat itu mereka menyadari bahwa rumah itu adalah rumah Nenek Pakande, sosok perempuan tua yang pemakan manusia.
Nenek Pakande naik ke atas rumah dan bertanya kepada kedua anak tersebut, “Siapakah kalian, cucu-cucu?”
Mereka menjawab, “Kami adalah anak yang tidak memiliki ibu. Ayah kami sudah menikah lagi, dan ibu tirinya tidak menyukai kami. Kami terpaksa membuang diri, dan kami sampai di rumah ini.”
Nenek Pakande berkata, “Baiklah, tinggallah kalian di sini, cucu-cucu. Jaga rumah ini, karena aku sering bepergian.”
Nenek Pakande kemudian bertanya, “Sudahkah kalian makan?”
Anak-anak itu menjawab, “Sudah, nenek!”
Nenek Pakande berkata lagi, “Makanlah banyak supaya cepat besar!”
Kedua anak itu mulai merasa tenang dan mempercayai kata-kata Nenek Pakande. Nenek Pakande terus bertanya, “Bagaimana ukuran hatimu, cucu?”
Mereka menjawab, “Masih sebesar biji beras, nenek.”
Nenek Pakande berkata, “Makanlah, makanlah supaya cepat besar!”
Dialog seperti itu terjadi setiap hari. Kedua anak itu tinggal di rumah tersebut bersama dengan Nenek Pakande.
Hari demi hari berlalu, kedua anak tersebut tinggal di rumah Nenek Pakande. Mereka terus makan dan bertambah besar. Setiap kali Nenek Pakande pulang dari perjalanannya, dia senang melihat perkembangan kedua anak itu.
Namun, dalam hati kedua anak itu, mereka merasa ada yang tidak beres. Mereka masih ingat kejahatan ibu tirinya yang ingin membunuh mereka.
Mereka merasa waspada terhadap Nenek Pakande, meskipun dia telah memberi mereka tempat tinggal dan makanan.
Suatu hari, saat Nenek Pakande pergi berpergian lagi, kedua anak itu mengintip ke dalam kamar Nenek Pakande yang terkunci rapat.
Mereka memutuskan untuk membuka pintunya dengan hati-hati. Saat pintu terbuka, mereka melihat sesuatu yang mengerikan.
Di dalam kamar itu, terdapat sebuah ruangan bawah tanah yang gelap dan penuh dengan tulang-tulang manusia. Mereka kaget dan terkejut. Akhirnya, mereka menyadari kebenaran tentang Nenek Pakande. Dia benar-benar seorang pemangsa anak-anak.
Kedua anak itu sangat takut dan merasa terancam. Mereka merencanakan pelarian dari rumah itu, karena mereka takut Nenek Pakande akan kembali dan melakukan kejahatannya pada mereka.
Pada malam hari, ketika Nenek Pakande masih belum pulang, mereka memutuskan untuk kabur. Mereka merangkak keluar dari rumah dan berlari secepat mungkin menjauh dari tempat itu. Hatinya penuh dengan ketakutan, namun juga dengan harapan baru.
Kedua anak itu terus berlari dan bersembunyi di hutan selama beberapa hari. Mereka bertahan dengan apa yang bisa mereka temukan di alam liar.
Tapi mereka tidak kehilangan harapan untuk menemukan tempat yang aman.
Suatu hari, mereka bertemu dengan seorang kakek yang baik hati. Kakek itu mengasihani nasib kedua anak itu dan mengajak mereka pulang ke rumahnya.
Kakek itu adalah seorang petani yang tinggal sendirian dan tidak memiliki cucu. Dia merawat kedua anak itu seperti cucunya sendiri.
Kedua anak itu akhirnya menemukan kehidupan baru yang penuh kasih sayang. Mereka diberi makanan yang cukup, tempat tidur yang nyaman, dan perhatian yang hangat. Mereka tumbuh menjadi anak-anak yang bahagia dan sehat di bawah perlindungan sang kakek.
Dalam ingatan mereka, mereka selalu berterima kasih kepada tetangga yang telah menyelamatkan mereka dari takdir yang mengerikan.
Mereka berjanji untuk hidup dengan penuh rasa syukur dan menciptakan dunia yang lebih baik di sekitar mereka.
Itulah cerita singkat yang populer, cocok dibacakan untuk anak sebelum tidur berjudul cerita inspiratif tentang Nenek Pakande, lengkap dengan pesan moralnya.
Pesan moral dari cerita Nenek Pakande ini adalah:
Kebaikan dan kejahatan dapat ditemukan dalam diri setiap individu. Terkadang, penampilan luar seseorang dapat menipu kita. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk melihat lebih dalam dan tidak mudah terpengaruh oleh penampilan semata.
Cerita ini mengajarkan kepada kita bahwa kebaikan sejati datang dari hati yang tulus dan perbuatan yang baik. Meskipun kedua anak itu menghadapi perlakuan buruk dari ibu tirinya, mereka tetap mempertahankan kebaikan dan mencari tempat yang aman.
Selain itu, cerita ini mengingatkan kita untuk tetap berhati-hati dalam mempercayai orang lain. Kedua anak itu mengalami ketakutan dan bahaya ketika mereka tidak waspada terhadap Nenek Pakande. Ini mengajarkan kepada kita pentingnya waspada dan kritis terhadap lingkungan sekitar kita.
