contoh penggunaan kalimat pasif

Mengenal Penggunaan, Jenis dan Contoh Kalimat Pasif dalam Tata Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia memiliki sistem bahasa yang berbeda dan menjadi ciri khas bahasa itu sendiri. Dalam tata bahasa Indonesia dikenal adanya kalimat untuk menyusun sebuah tulisan. Jenis dan bentuk kalimatnya terbagi dua, kalimat aktif dan kalimat pasif. Kalimat aktif merujuk pada hal-hal yang dikerjakan secara nyata. Sedangkan, kalimat pasif memenuhi syarat morfologis, sintakis, dan semantis. Contoh kalimat pasif dimulai dengan di-, ter-, di-kan dan tata kalimat yang subjeknya dikenai suatu pekerjaan. 

Umumnya dalam kalimat pasif, subjek bukanlah pelaku perbuatan melainkan sesuatu yang dikenai perbuatan. Terbentuk dalam satu kalimat ditandai dengan prefiks di-. Kalimat pasif memiliki pola SPO tetapi dengan tata kalimat yang menjadi subjek justru menjadi sesuatu yang dikenai predikat atau bisa dibilang menjadi bahan pekerjaanya. Berbeda, dengan kalimat aktif dimana subjek menjadi pelaku pekerjaan. Dalam tata bahasa kalimat aktif muncul sebagai proses dari pemasifan kalimat aktif. 

Mengenal Kalimat Pasif Dalam Tata Bahasa Indonesia

pengertian Kalimat Pasif
pengertian Kalimat Pasif (Photo on Foter.com)

Kalimat pasif dicirikan sebagai kalimat yang subjeknya mengalami atau dikenai pekerjaan. Subjek dalam suatu kalimat tidak berperan sebagai pelaku, tapi berperan sebagai sasaran perbuatan yang dinyatakan predikat. Banyak yang menjabarkan bahwa kalimat pasif adalah ubahan dari kalimat aktif. Pengubahan terjadi karena berpindahnya unsur objek kalimat aktif ke tempat subjek kalimat pasif. Hal tersebut menyebabkan verba predikat beralih dari verba aktif ke verba pasif. 

Kalimat pasif dikatakan bahwa subjeknya berperan sebagai penderita. Hasil dari perbuatan yang dinyatakan oleh predikat kalimat. Unsur pengisi fungtor S-nya berperan jadi yang dikenai aktivitas. Kalimat pasif biasanya berafiks di- atau ter-. Disamping itu, kalimat pasif dengan afiks di- biasanya masih bisa dikembalikan ke bentuk kalimat aktif transitif, sedangkan bentuk lainnya belum tentu. Contoh kalimat pasif sering digunakan dalam tata bahasa bukan sebagai aktivitas yang dilakukan berulang. 

Berkenalan Dengan Fungsi Pelaku Dalam Kalimat Pasif

Keberadaan kalimat pasif merupakan efek dari proses kebahasaan kalimat aktif. Muncul dari proses pemasifan kalimat aktif. Kalimat pasif sendiri adalah kalimat dengan subjeknya sebagai sasaran perbuatan yang dinyatakan predikat. Pada beberapa kontruksi, kalimat pasif tidak selalu muncul karena pemasifan kalimat aktif. Penekanan cirinya pada fungsi pelaku dalam kalimat. Antara kalimat aktif dan pasif, keduanya memerlukan ketegasan pelaku dalam kalimta. Di kalimat pasif, peran pelaku keberadaanya wajib ada di satu kalimat. 

Peran pelaku dan kewajiban pelaku pada kalimat terlihat jelas jenis dan fungsinya. Peran pelaku dalam sebuah kalimat menduduki subjek, subjek yang dikenai pekerjaan dalam tata kalimat. Secara umum, pelaku dalam kalimat pasif menduduki fungsi objek. Fungsi objek sendiri berasal dari ubahan kalimat aktif. Memang kalimat aktif memiliki pelaku sebagai subjek dan verba aktif transitif sebagai predikat. Sedangkan, dalam kalimat pasif ada imbuhan di-, yang merubah peran pelaku menjadi objek. 

Mempelajari Ciri-ciri Kalimat Pasif 

contoh penggunaan kalimat pasif

Ciri kalimat pasif kentara dimana subjek sebagai penderita, predikat berawalan di- , ter-, dan ke-an. Awalan di- bentuk dan kondisi manapun sama saja. Hanya perlu memperhatikan peletakkan di- sebagai awalan atau di- sebagai kata depan. Makna di- sudah berkonotasi pasif dan artinya mengandung kebalikan dari kata kerja aktif. Karena kalimat aktif-pasif mengandung hubungan timbal balik, misalnya melihat-dilihat, membuat-dibuat. Awalan di- juga jarang dirangkai dengan kata benda, bilangan atau sifat. Selalu verba yang mengikuti. 

Selanjutnya awalan ter-, yang pengimbuhannya dilakukan dengan merangkai di muka kata yang diimbuhi. Beberapa aturan pengimbuhan untuk awalan ter- ; 1) untuk mendapatkan makna ‘paling’ awalan ter- wajib diimbuhkan kata sifat; 2) untuk kalimat makna ‘dapat atau sanggup’ awalan ter- diimbuhkan kata kerja; 3) kalimat dengan makna ‘tidak sengaja awalan ter- diimbuhkan kata kerja; 4) kalimat makna ‘sudah terjadi’ awalan ter- diimbuhkan kata kerja; 5) untuk makna ‘dalam keadaan’ awalan ter- diimbuhkan kata dasar yang menyatakan keadaan; dan lainnya. Semua kata awalan dalam kalimat pasif memiliki pemaknaan masing-masing. 

Jenis Kalimat Pasif Dilihat Dari Sisi Subjeknya 

Ada dua bentuk kalimat pasif bila dilihat dari peletakkan pelaku, yaitu kalimat pasif transitif dan kalimat pasif intransitif. Pertama, kalimat pasif transitif yang merupakan satu kalimat yang dilengkapi objek kalimat, baik itu objek dengan dilengkapi keterangan atau pelengkap. Bisa diberi objek atau tidak karena tidak mempengaruhi makna kalimat. Cukup tata kalimat dengan verba pasif sudah menjelaskan. Contoh kalimat pasif; air dimasak ibu, roti dimakan Sofi, motor dinaiki Herman atau contoh lainnya. 

Beberapa Contoh Lain dari kalimat pasif transitif:

  • Bola ditangkap Asep dengan sempurna.
  • Gerhana matahari total dilihat Desi.
  • Kelereng baru dimainkan Azmi.
  • Ketapelnya sedang diperbaiki Komar.
  • Kursi rusak diduduki Rendi.
  • Mobil barunya dikendarai Ferdi.
  • Sayur bayam dimasak ibu.
  • Segelas kopi untuk kakak dibuatkan Aku.
  • Tugasnya sedang diselesaikan Dian.
  • Uang saku cukup banyak diberikan Ayah hari ini.

Kedua, kalimat pasif intransitif, merupakan kalimat pasif tidak lengkap dengan objek, hanya diikuti keterangan atau pelengkap. Keterangan atau pelengkap biasanya disertakan sebagai penjelas situasi. Atau maknanya mengatakan terjadi kapan dan di suatu tempat. Pada kalimat pasif intransitif, subjek butuh dijelaskan karena bila tidak, kalimat menjadi tidak lengkap dan ambigu. Contoh kalimat pasif intransitif; Buku itu terkenar air hujan semalam, ikan dipelihara di dalam akuarium, roti dibakara di pangagangan. 

Beberapa Contoh Lain dari kalimat pasif intransitif:

  • Ayam itu dilempar hingga lari terbirit-birit.
  • Bangunan dibangun sejak zaman Belanda.
  • Gerbong kereta itu sedang diperbaiki.
  • Ia sangat terpukul setelah tahu keadaannya.
  • Ia terlena sehingga lupa segalanya.
  • Ikan paus besar itu terdampar di tepi pantai.
  • Jono dilantik menjadi presiden hari ini.
  • Komodo terancam punah pada tahun-tahun belakangan ini.
  • Monika dipangkas dengan model rambut terbaru.
  • Sayur disukai karena kaya akan vitamin.

Jenis Kalimat Pasif Dilihat Dari Sisi Predikatnya

Jenis Kalimat Pasif
Jenis Kalimat Pasif (Photo on Foter.com)

Ada dua bentuk kalimat pasif bila dilihat dari imbuhan predikatnya, yaitu kalimat pasif tindakan dan kalimat pasif keadaan. Keduanya mempengaruhi makna dari kalimat pasif. Pertama, kalimat pasif tindakan yang mana predikatnya dalam bentuk tindakan. Seringkali predikat ditambahi dengan imbuhan di- atau di-kan. Predikatnya menyatakan verba aktif yang dipasifkan. Contoh kalimat pasif; Lampu dinyalakan oleh adek, pulpen biru dibelikan oleh ayah, sepeda hitam dinaiki adek. 

Kedua, kalimat pasif keadaan, yang mana predikatnya dalam bentuk keadaan. Seringkali predikat ditambahi dengan imbuhan ke-an. Kalimat pasif cenderung seperti kalimat pemberitahuan daripada kalimat verba aktif yang dipasifkan. Bisa jadi menjadi kalimat perintah karena tidak adanya verba dalam kalimat. Contoh kalimat pasif keadaan; Gudangnya kebakaran semalam, kucing itu kedinginan ketika hujan semalam. Dalam contoh tersebut, tidak ada aktivitas yang dilakukan. Hanya sebagai makna memberitahu saja. 

Contoh kalimat pasif tindakan:

  • Aku diberi uang sebesar 500 ribu oleh Ayah.
  • Aku dimanjanya tanpa henti. (Predikat dimanja diberi imbuhan kata ganti -nya).
  • Aku dipukulnya dengan keras. (Predikat dipukul diberi imbuhan kata ganti -nya).
  • Aku kautusuk. (Predikat tusuk diberi imbuhan kata ganti kau).
  • Aku terbakar cemburu saat melihatnya bersama pria lain.
  • Aku termakan bujuk rayunya.
  • Anak itu diberi nama Ani. (Predikat diberi dibuhui imbuhan kata ganti itu).
  • Anak Pak Dorman terjatuh dari atas pohon.
  • Anaknya tertabrak motor saat hendak menyeberang.
  • Anda kami tahan. (Predikat tahan diberi imbuhan kata ganti kami)
  • Api yang membakar rumah itu disiram air oleh pemadam kebakaran.
  • Artikelnya ditulis Amar secara rinci.
  • Ayah dipanggil Kepala Sekolah untuk menghadiri rapat besok.
  • Banu dihina oleh temannya.
  • Batin ini tersiksa. (Predikat tersiksa diberi imbuhan kata kerja ini).
  • Bau busuk bangkai tercium kemana-kemana.
  • Bayinya terlahir dengan kondisi yang memprihatinkan.
  • Beliau kami panggil untuk memberi kssaksian atas kasus korupsi dana hibah pendidikan. (Predikat panggil diberi imbuhan kata ganti kami).
  • Berita kematiannya telah tersebar ke seluruh desa.
  • Buku aku pinjam sebentar. (Predikat pinjam diberi imbuhan kata ganti aku).
  • Buku itu tertinggal. (Predikat tertinggal diberi imbuhan kata ganti itu).
  • Bukunya dibaca Joko dengan saksama.
  • Bunga itu dipetiknya tadi siang. (Predikat dipetik diberi imbuhan kata ganti -nya).
  • Dalam kegiatan tersebut, Rizal ditunjuk sebagai Ketua Pelaksana.
  • Dalam persidangan tersebut, tersangka divonis bersalah dan dihukum seumur hidup.
  • Dani tersedak karena makan terburu-buru.
  • Daun itu tertiup oleh angin. (Predikat tertiup diberi imbuhan kata ganti itu).
  • Dede terseret arus sungai saat berenang.
  • Dia di sana termenung sendirian. (Predikat termenung diberi imbuhan kata ganti di sana).
  • Dia dituduh melakukan pencurian.
  • Dia itu dididik Ayahnya dengan keras. (Predikat dididik diberi imbuhan kata ganti itu).
  • Dia terkunci di rumah seharian.
  • Dia tersinggung atas ucapan Fahri tadi malam.
  • Emas itu dicurinya tadi malam. (Predikat dicuri diberi imbuhan kata ganti -nya).
  • Faiz ditangkap polisi karena terlibat kasus tawuran.
  • Gelas terisi penuh oleh kopi.
  • Hariono dijuluki sebagai gelandang pengangkut air karena kemampuannya yang baik sebagai seorang gelandang bertahan.
  • Ikan asin dimakan oleh kucing.
  • Jaka terpana oleh pesona perempuan itu.
  • Jari Ibu tersayat pisau saat memotong sayur-sayuran.
  • Jariku tertusuk jarum saat menjahit.
  • Jenazah dikubur tadi siang.
  • Kakiku tersandung batu.
  • Kalian semua ditipu oleh mereka. (Predikat ditipu diberi imbuhan kata ganti semua).
  • Kami diminta hadir pada persidangan besok.
  • Kami disiksanya tanpa ampun. (Predikat disiksa diberi imbuhan kata ganti -nya).
  • Kami semua dihina dirimu. (Predikat dihina diberi imbuhan kata ganti semua).
  • Kami semua diterima di fakultas yang sama. (Predikat diterima diberi imbuhan kata ganti semua).
  • Kamu aku angkat menjadi asisten pribadi. (Predikat angkat diberi imbuhan kata ganti aku).
  • Kamu aku tinggal ke luar kota sementara. (Predikat tinggal diberi imbuhan kata ganti aku).
  • Karena mogok, motor itu pun didorong olehnya.
  • Kemarin, aku terpeleset di kamar mandi.
  • Kepalanya dipukul kayu oleh pelaku.
  • Kesulitan ekonomi membuat Aan tertekan.
  • Kita semua dihukum Pak Guru karena datang terlabat. (Predikat dipanggil diberi imbuhan kata ganti semua).
  • Konser Noah ditonton puluhan ribu orang.
  • Kopi diminumnya saat masih panas. (Predikat diminum diberi imbuhan kata ganti -nya).
  • Kopi telah diminum oleh Kakek.
  • Korban disiksa hingga meninggal.
  • Korban ditusuk pada bagian perutnya.
  • Kota tersebut dihuni 5 juta orang.
  • Mereka kami anggap seperti keluarga sendiri. (Predikat anggap diberi imbuhan kata ganti dianggap).
  • Mereka masing-masing diuji kecerdasannya. (Predikat diuji diberi imbuhan kata ganti masing-masing).
  • Mereka yang terpilih  akan mengikuti seleksi selanjutnya. (Predikat terpilih diberi imbuhan kata ganti yang).
  • Nasibnya tergantung dari tekadnya.
  • Obatnya harus diminum 3 x sehari.
  • Pak Guru terkesan dengan prestasi murid-muridnya.
  • Pandu terkapar setelah kelelahan.
  • Para kerabat teriak histeris menyambut kedatangan jenazah korban.
  • Para korban tertipu hingga ratusan juta rupiah.
  • Pelaku tertangkap polisi saat pesta miras bersama rekan-rekannya.
  • Perampok dipukul oleh warga yang naik pitam.
  • Pipinya tertinju saat adu jotos dengan lawannya.
  • Pohon pisang itu ditanam oleh kakek.
  • Pohon-pohon ditebang oleh warga.
  • Pot yang dirusak telah diganti oleh pihak perusak. (Predikat dirusak diberi imbuhan kata ganti yang).
  • Putri terduduk setelah mendengar kabar kematian suaminya.
  • Rudi saya tunjuk menjadi pemimpin proyek ini. (Predikat tunjuk diberi imbuhan kata kerja saya).
  • Rumah itu dirampok saat tengah malam.
  • Saat bermain futsal, kakiku tertendang oleh temanku.
  • Saat bermain, Dede dipanggil oleh Ibunya untuk segera pulang.
  • Saat pertandingan berlangsung, salah seorang pemain timnas tersikut oleh pemain lawan.
  • Sampah-sampah plastik itu dibakar di halaman rumah.
  • Saya tertarik untuk mengerjakan proyek tersebut.
  • Sebagai pemimpin, Asep dituntut lebih tegas dalam mengambil keputusan.
  • Sejak kemarin, Abbas dicari oleh teman-temannya.
  • Semua biaya pengeluaran telah tercatat di laporan pertanggungjawaban.
  • Setelah itu, adonan cakue digoreng hingga matang.
  • Tangan ini tertusuk duri. (Predikat tertusuk diberi imbuhan kata ganti ini).
  • Tanpa sengaja, Dimas tersenggol penonton lain yang tengah berjoget.

Pemarkahan Verba Pasif dalam Bahasa Indonesia

Dalam istilah bahasa Indonesia ada namanya pemarkah atau morfem, yaitu tanda hubungan struktural diantara bentuk-bentuk yang lain. Cara permakahan bisa diartikan dengan verba dan argumen S-nya. Bisa jadi verba dalam bentuk terikat. Dibedakan dalam tiga jenis; pemarkah induk, pemarkah bawahan, dan pemarkah rangkap. Pemarkah dalam verba pasif penentuannya dengan melakukan perbandingan dengan kalimat aktinya. Hasil perbandingan untuk mengetahui permarkah yang mengalami perubahan jadi verba aktif. 

Pemarkah verba pasif memunculkan afiks (di-), afiks (ter-), dan konfiks (ke-an). Ketiganya ketika diletakkan dalam kalimat pasif mengandung arti berbeda. Cara peletakkanya pun berbeda diikuti imbuhan-imbuhan yang sudah ditetapkan. Ada juga yang tidak perlu dijelaskan dengan objek, ada juga yang perlu dijelaskan dengan pelengkap atau keterangan. Pemarkahan mengalami hubungan timbal balik dalam kalimat. Semuanya ditulis membentuk kalimat gramatikal. 

Itulah penjabaran kegunaan kalimat pasif dalam tatanan bahasa Indonesia. Kalimat gramatikal diperlukan untuk menyempurnakan bahasa. Fungsinya agar pembaca tidak salah pemaknaan. Ketikan nanti dibawa pada sebuah tulisan, jelas mana subjek yang butuh dijelaskan atau mana subjek yang berpelaku menjadi objek. Pengetahuan dasar seperti ini diperlukan, agar saat nanti dipaksa harus membuat sebuah tulisan atau jurnal, tata bahasa sudah terkondisikan dengan baik. 

Leave a Comment