cerita rakyat jawa tengah

Kumpulan Cerita Rakyat Jawa Tengah beserta Pesan Moral

Di Kalangan Masyarakat Jawa Tengah sendiri ada banyak macam cerita atau dongeng yang melegenda dan ini sudah jadi cerita rakyat Rawa tengah secara turun temurun. Berikut ini cerita Rakyat Jawa Tengah yang perlu kamu tahu.

Cerita Rakyat Jawa Tengah – Timun Mas

timun mas
Sumber : cerita-anak-indo.blogspot.com

Kala itu, hidup seorang wanita tua sebut saja Mbok Sirni, ia menginginkan sekali mempunyai anak, akan tetapi hingga suaminya meninggal ia tidak juga diamanahkan seorang anak.

Pada suatu hari, datang seorang raksasa yang memberikan biji-biji tanaman mentimun, dan mengatakan bahwa Mbok Sirni akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Namun raksasa menginginkan Mbok Sirni untuk berbagi hasil dari biji mentimun pemberiannya tersebut, Mbok Sirni pun setuju.

Setelah bibit tersebut ditanam, selang beberapa hari, bibit tersebut tumbuh dan berbuah. Buah-buahnya sangat besar, diantaranya terdapat satu yang sangat besar, warnanya kekuningan yang berkilauan seperti emas saat terkena cahaya matahari.

Karena penasaran, Mbok Sirni mengambilnya dan membelah buah tersebut, tapi kemudian ia terkejut, didalam buah itu terdapat seorang bayi perempuan cantik. Bayi itu kemudian diberi nama Timun Emas.

Ketika Timun Emas beranjak besar, Mbok Sirni bertemu kembali dengan raksasa, si raksasa ingin meminta janji Mbok Sirni yang akan membagi hasil dari biji mentimun tersebut.

Namun Mbok Sirni tidak rela jika anak kesayangannya diambil oleh raksasa. Si raksasa pun memberikan kelonggaran bagi Mbok Sirni untuk menjaga Timun Emas sampai berumur 17 tahun, dan setelah itu si raksasa akan memangsanya.

Seiring berjalannya waktu, Mbok Sirni semakin cemas memikirkan cara bagaiman Timun Emas bisa lolos dari si raksasa. Sampai suatu malam Mbok Sirni bermimpi, bahwa ia harus menemui seorang pertapa sakti yang berada di Gunung Gundul.

Kemudian ia segera menemui pertapa, setelah itu pertapa memberinya satu bibit tanaman mentimun, jarum, sebutir garam dan sepotong terasi kepada Mbok Sirni. Pertapa ingin agar Mbok Sirni memberikan semua itu pada Timun Emas agar ia bisa terbebas dari raksasa. Setelah pulang, Mbok Sirni memberikan barang-barang tersebut pada Timun Emas.

Selang beberapa hari setelah itu, raksasa datang ke rumah Mbok Sirni, untuk memangsa Timun Emas. Kemudian Mbok Sirni mengatakan bahwa anaknya telah berlari menuju hutan. Kemudian raksasa mengejar Timun Emas dengan langkahnya yang besar. Melihat si raksasa semakin dekat, Timun Emas segera melemparkan satu bibit mentimun.

Seketika bibit mentimun itu berubah menjadi tanaman mentimun yang sangat lebat dan banyak buahnya. Raksasa yang sedang kelaparan, menyantap semua buah mentimun tersebut, namun rasa laparnya belum juga berkurang, ia masih mencoba mengejar Timun Emas.

Melihat posisinya yang semakin dekat, Timun Emas kemudian melemparkan jarum yan dibawanya. Jarum yang dilempar tersebut berubah menjadi pepohonan bambu yang sangat lebat dengan batang pohon yang tinggi dan tajam. Batang tersebut mengahalangi jalan si raksasa, namun ia mencoba mencabuti pohon-pohon tersebut, sampai kedua kaki si raksasa tertusuk oleh batang bamboo, namun ia tetap berusaha mengejar Timun Emas.

Kemudian Timun Emas melempar segenggam garam yang dibawanya, garam tersebut berubah menjadi lautan luas yang menjadi penghalang antara Timun Emas dan raksasa.

Namun si raksasa yang lapar tetap ingin menyantap Timun Emas, akhirnya ia berenang melintasi lautan tersebut. Dengan kelelahan akhirnya raksasa bisa menyebrangi lautan dan kembali mengejar Timun Emas.

Timun Emas kemudian melemparkan senjata terakhirnya, sepotong terasi. Terasi tersebut berubah menjadi lumpur hisap yang luas. Raksasa yang mengejar Timun Emas terhisap ke dalam lumpur tersebut, dan kemudian ia mati dalam lumpur tersebut. Timun Emas akhirnya selamat, dan kembali pulang. Setelah itu Timun Emas dan Mbok Sirni hidup bahagia.

Pesan Moral dari Cerita Rakyat Jawa Tengah – Timun Mas adalah setiap maslaah pasti ada jalan keluarnya jika kita mau berusaha dan berdoa saat menghadapinya.

Oleh karena itu saat menghadapi tantangan atau rintangan, kita harus terus berusaha dengan seluruh kemampuan untuk bisa mengatasinya.

Dan selalu ingat untuk berdoa serta memohon kepada Tuhan. Sebab Tuhan lah yang Maha kuat dan penentu segalanya.

Cerita Rakyat Dari Jawa Tengah – Legenda Rawa Pening

Sumber : dongeng.kamikamu.net

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang anak yang sakti. Kesaktiannya ini membuat seorang menyihir jahat iri. Penyihir jahat menyihir anak itu, sehingga tubuhnya penuh luka dengan bau yang sangat menyengat.

Luka-luka baru akan muncul begitu luka lama mulai kering. Keadaannya kondisi tubuhnya itu, tidak ada seorang pun yang mau berhubungan dengannya. Jangankan bertegur sapa, berdekatan saja orang tidak mau. Mereka takut tertular.

Suatu hari, anak ini bermimpi ada seorang perempuan tua yang dapat menyembuhkan penyakitnya. Ia pun berkelana mencari perempuan tua dalam mimpinya tersebut. Di setiap kampung yang ia datangi, ia selalu ditolak oleh penduduk. Mereka merasa jijik dan mengusir anak ini.

Akhirnya, sampailah ia di sebuah kampung yang sebagian besar penduduknya adalah orang-orang yang sombong. Tidak banyak orang yang miskin di desa itu. Mereka akan diusir atau dibuat tidak nyaman kalau tinggal di sana. Hal ini mengusik hati anak kecil ini.

Pada sebuah pesta yang diselenggarakan di kampung itu, anak kecil ini berhasil masuk. Namun, orang-orang segera mengusirnya dan mencaci-makinya. Ia langsung diseret keluar.

Pada saat terseret, ia berpesan kepada orang-orang itu supaya lebih memerhatikan orang tak punya. Mendengar kata-kata anak itu, beberapa orang makin marah, bahkan meludahinya sambil berkata, “Dasar anak setan, anak buruk rupa!”

Anak itu merasa terluka dengan perlakuan orang-orang tersebut. Lalu, ia menancapkan sebuah lidi di tanah don berkata, “Tak ada satu pun yang bisa mencabut lidi ini dari tanah, hanya aku yang bisa melakukannya!”

Orang-orang meragukan ucapan anak tersebut. Mereka pun mencoba mencabut lidi tersebut. Namun, tak seorangpun dapat melakukannya. Dalam beberapa hari, lidi itu tak bisa tercabut.

Suatu hari, secara diam-diam, anak itu datang don mencabut lidi itu. Tanpa sepengetahuannya, ada seorang warga yang melihatnya dan melaporkannya kepada warga yang lain.

Dari tempat lidi itu dicabut, mengalirlah mata air. Semakin lama, air itu semakin deras. Air menenggelamkan daerah tersebut, sehingga menjadi sebuah telaga yang kini bernama Telaga Rawa Pening.

Tidak ada yang selamat dari musibah itu kecuali seorang perempuan tua yang berbaik hati memberinya tempat tinggal dan merawatnya. Secara ajaib penyakit kulit anak itu sembuh.

Namun, penyihir jahat yang telah menyihir si anak itu tidak terima dengan kesembuhan itu. Kemudian, ia menyihir anak itu menjadi seekor ular besar dengan sebuah kalung genta di lehernya.

Konon, ular ini sering keluar dari sarangnya pada tengah malam. Setiap kali bergerak, dentingan kalung di lehernya selalu berbunyi klentang-klenting. Bunyi inilah yang kemudian membuatnya dinamakan Baru Klinting.

Kemunculan ular itu diyakinin masyarakat sebagai tando keberuntungan bagi nelayan nelayan yang tidak mendapat ikan.

Kini, Telaga Rama Pening adalah objek wisata yang sangat populer di Jawa Tengah. Tempat ini terletak di Desa Bukit Cinta, Kabupaten Ambarawa.

Pesan moral dari Cerita Rakyat Jawa Tengah – Legenda Rawa Pening adalah hargai orang lain dan jangan saling membenci. Jangan pernah hanya menilai seseorang dari penampilan luarnya saja. Apa yang terlihat menarik bisa saja buruk untuk kita begitu juga sebaliknya, apa yang kita tidak suka bisa saja bermanfaat untuk kita.

Cerita Rakyat Jawa Tengah – Roro Jongrang dan Candi Prambanan

Sumber : Uniqpost.com 

Pada zaman dahulu kala, berdiri sebuah kerajaan yang sangat besar yang bernama Prambanan. Rakyat Prambanan sangat damai dan makmur di bawah kepemimpinan raja yang bernama Prabu Baka. Kerajaankerajaan kecil di wilayah sekitar Prambanan juga sangat tunduk dan menghormati kepemimpinan Prabu Baka.

Sementara itu di lain tempat, ada satu kerajaan yang tak kalah besarnya dengan kerajaan Prambanan, yakni kerajaan Pengging. Kerajaan tersebut terkenal sangat arogan dan ingin selalu memperluas wilayah kekuasaanya.

Kerajaan Pengging mempunyai seorang ksatria sakti yang bernama Bondowoso. Dia mempunyai senjata sakti yang bernama Bandung, sehingga Bondowoso terkenal dengan sebutan Bandung Bondowoso.

Selain mempunyai senjata yang sakti, Bandung Bondowoso juga mempunyai bala tentara berupa Jin. Bala tentara tersebut yang digunakan Bandung Bondowoso untuk membantunya untuk menyerang kerajaan lain dan memenuhi segala keinginannya.

Hingga Suatu ketika, Raja Pengging yang arogan memanggil Bandung Bondowoso. Raja Pengging itu kemudian memerintahkan Bandung Bondowoso untuk menyerang Kerajaan Prambanan. Keesokan harinya Bandung Bondowoso memanggil balatentaranya yang berupa Jin untuk berkumpul, dan langsung berangkat ke Kerajaan Prambanan.

Setibanya di Prambanan, mereka langsung menyerbu masuk ke dalam istana Prambanan. Prabu Baka dan pasukannya kalang kabut, karena mereka kurang persiapan. Akhirnya Bandung Bondowoso berhasil menduduki Kerajaan Prambanan, dan Prabu Baka tewas karena terkena senjata Bandung Bondowoso.

Kemenangan Bandung Bondowoso dan pasukannya disambut gembira oleh Raja Pengging. Kemudian Raja Pengging pun mengamanatkan Bandung Bondowoso untuk menempati Istana Prambanan dan mengurus segala isinya, termasuk keluarga Prabu Baka.

Pada saat Bandung Bondowoso tinggal di Istana Kerajaan Prambanan, dia melihat seorang wanita yang sangat cantik jelita. Wanita tersebut adalah Roro Jonggrang, putri dari Prabu Baka. Saat melihat Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso mulai jatuh hati. Dengan tanpa berpikir panjang lagi, Bandung Bondowoso langsung memanggil dan melamar Roro Jonggrang.

“Wahai Roro Jonggrang, bersediakah seandainya dikau menjadi permaisuriku?”, Tanya Bandung Bondowoso pada Roro Jonggrang.

Mendengar pertanyaan dari Bandung Bondowoso tersebut, Roro Jonggrang hanya terdiam dan kelihatan bingung.

Sebenarnya dia sangat membenci Bandung Bondowoso, karena telah membunuh ayahnya yang sangat dicintainya. Tetapi di sisi lain, Roro Jonggrang merasa takut menolak lamaran Bandung Bondowoso. Akhirnya setelah berfikir sejenak, Roro Jonggrang pun menemukan satu cara supaya Bandung Bondowoso tidak jadi menikahinya.

“Baiklah,aku menerima lamaranmu. Tetapi setelah kamu memenuhi satu syarat dariku”,jawab Roro Jonggrang.

“Apakah syaratmu itu Roro Jonggrang?”,Tanya Bandung Bandawasa.

“Buatkan aku seribu candi dan dua buah sumur dalam waktu satu malam”, Jawab Roro Jonggrang.

Mendengar syarat yang diajukan Roro Jonggrang tersebut, Bandung Bondowoso pun langsung menyetujuinya. Dia merasa bahwa itu adalah syarat yang sangat mudah baginya, karena Bandung Bondowoso mempunyai balatentara Jin yang sangat banyak.

Pada malam harinya, Bandung Bandawasa mulai mengumpulkan balatentaranya. Dalam waktu sekejap, balatentara yang berupa Jin tersebut datang. Setelah mendengar perintah dari Bandung Bondowoso, para balatentara itu langsung membangun candi dan sumur dengan sangat cepat.

Roro Jonggrang yang menyaksikan pembangunan candi mulai gelisah dan ketakutan, karena dalam dua per tiga malam, tinggal tiga buah candi dan sebuah sumur saja yang belum mereka selesaikan.

Roro Jonggrang kemudian berpikir keras, mencari cara supaya Bandung Bondowoso tidak dapat memenuhi persyaratannya.

Setelah berpikir keras, Roro Jonggrang akhirnya menemukan jalan keluar. Dia akan membuat suasana menjadi seperti pagi,sehingga para Jin tersebut menghentikan pembuatan candi.

Roro Jonggrang segera memanggil semua dayangdayang yang ada di istana. Dayangdayang tersebut diberi tugas Roro Jonggrang untuk membakar jerami, membunyikan lesung, serta menaburkan bunga yang berbau semerbak mewangi.

Mendengar perintah dari Roro Jonggrang, dayangdayang segera membakar jerami. Tak lama kemudian langit tampak kemerah merahan, dan lesung pun mulai dibunyikan. Bau harum bunga yang disebar mulai tercium, dan ayam pun mulai berkokok.

Melihat langit memerah, bunyi lesung, dan bau harumnya bunga tersebut, maka balatentara Bandung Bondowoso mulai pergi meninggalkan pekerjaannya. Mereka pikir hari sudah mulai pagi, dan mereka pun harus pergi.

Melihat Balatentaranya pergi, Bandung Bondowoso berteriak: “Hai balatentaraku, hari belum pagi. Kembalilah untuk menyelesaikan pembangunan candi ini !!!”

Para Jin tersebut tetap pergi, dan tidak menghiraukan teriakan Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso pun merasa sangat kesal, dan akhirnya menyelesaikan pembangunan candi yang tersisa. Namun sungguh sial, belum selesai pembangunan candi tersebut, pagi sudah datang. Bandung Bondowoso pun gagal memenuhi syarat dari Roro Jonggrang.

Mengetahui kegagalan Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang lalu menghampiri Bandung Bondowoso. “Kamu gagal memenuhi syarat dariku, Bandung Bondowoso”, kata Roro Jonggrang.

Mendengar kata Roro Jonggrang tersebut, Bandung Bondowoso sangat marah. Dengan nada sangat keras, Bandung Bondowoso berkata: “Kau curang Roro Jonggrang. Sebenarnya engkaulah yang menggagalkan pembangunan seribu candi ini. Oleh karena itu, Engkau aku kutuk menjadi arca yang ada di dalam candi yang keseribu !”

Berkat kesaktian Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang berubah menjadi arca/patung. Wujud arca tersebut hingga kini dapat disaksikan di dalam kompleks candi Prambanan, dan nama candi tersebut dikenal dengan nama candi Roro Jonggrang. Sementara candicandi yang berada di sekitarnya disebut dengan Candi Sewu atau Candi Seribu.

Pesan moral dari Cerita Rakyat Jawa Tengah – Roro Jongrang dan Candi Prambanan adalah jangan memaksakan kehendak kita kepada orang lain, hormati apa yang menjadi keinginan orang lain. Kita pun tidak akan suka jika dipaksa mengerjakan pekerjaan yang tidak kita sukai.

Cerita Rakyat Jawa Tengah – Jaka Tingkir

Cerita Rakyat Jawa Tengah Jaka Tingkir
Sumber : ceritanebedo.blogspot.com

Banyubiru adalah nama desa terpencil di suatu kota di Jawa Tengah. Alamnya sangat indah dan  tanahnya subur. Di desa itu tinggal seorang yang amat saleh dan bijaksana, bernama Ki Buyut Banyubiru.

Pada suatu sore, datanglah seorang pemuda yang ingin berguru padanya. Pemuda itu bernama Joko Tingkir.

Apakah benar, saya sedang berhadapan dengan Ki Buyut Banyubiru?” tanya Joko Tingkir dengan penuh hormat kepada laki-laki setengah tua di hadapannya.

“Benar, akulah Ki Buyut Banyubiru dan aku tahu keperluanmu sehingga kau datang kemari,” jawab Ki Buyut Banyubiru. Maksud kedatangan Joko Tingkir adalah ingin memohon ampunan dari Sultan Demak untuk menebus kesalahannya karena telah membunuh Dadungawuk.

Di rumah Ki Buyut Banyubiru selain Joko Tingkir, ternyata ada pemuda lain bernama Mas Manca yang tinggal di sana. la berasal dari Desa Kalpitu di lereng Gunung Lawu. Setiap hari kedua pemuda itu menerima berbagai ilmu untuk menambah kesaktian.

“Mulai tengah malam ini kalian harus bertahan berendam di air sungai yang dingin ini,” kata Ki Buyut Banyubiru kepada kedua pemuda itu.

“Dengan cara ini kalian akan mampu menguasai diri dan mengendalikan hawa nafsu,” lanjut Ki Buyut Banyubiru. Kedua pemuda itu menjalankan perintahnya tanpa mengeluh.

Tak terasa Joko Tingkir telah berguru di Desa Banyubiru selama tiga bulan. Pada suatu hari ia dipanggil oleh Ki Buyut Banyubiru untuk diberi nasihat dan perintah.

“Anakku Joko Tingkir, sudah tiba saatnya kau menampakkan diri di hadapan Sultan Demak.         Ini, terimalah segenggam tanah. Bila kelak kau berjumpa dengan banteng, masukkan tanah ini ke dalam mulutnya. Banteng itu akan mengamuk dan lari ke Alun-Alun Prawata. Saat itulah Sultan akan memanggilmu,” kata Ki Buyut Banyubiru. Joko Tingkir mendengarkan

dengan seksama. Kemudian ia pamit dan memohon restu Ki Buyut Banyubiru.

Joko Tingkir ditemani oleh Mas Manca, Ki Wuragil dan Ki Wila menempuh perjalanan dengan menyusuri sungai menggunakan rakit.

“Awas, ada buaya!” teriak Joko Tingkir. Mereka tidak menyadari ternyata rakitnya telah dikerumuni oleh sekawanan buaya yang langsung menyerangnya dengan buas. Dengan gagah berani mereka melawan dan mengalahkan buaya-buaya itu. Bahkan Joko Tingkir berhasil mengalahkan raja buaya di sungai itu.

Sebagai pengakuan kekalahannya maka sebanyak empat puluh ekor buaya berbaris menopang rakit yang ditumpangi Joko Tingkir dan kawan-kawannya. Rakit itu pun meluncur cepat tanpa perlu mereka dayung lagi.

Akhirnya mereka tiba di tepi sungai dan segera memasuki hutan belantara. Tiba-tiba mereka melihat seekor banteng ganas yang siap menyerang. Koko Tingkir segera memasukkan tanah yang diberikan oleh Ki Buyut Banyubaru ke dalam mulut banteng. Seketika itu juga banteng mengamuk dan lari ke Alun-Alun Prawata.

“Awas, ada banteng mengamuk…!” teriak penduduk sambil berlarian menyelamatkan diri. Beberapa orang mencoba mengalahkan banteng itu.

Peristiwa yang menghebohkan itu akhirnya didengar oleh Sultan Demak. Beliau sangat cemas memikirkan keselamatan penduduknya. Tiba-tiba ia melihat Joko Tingkir yang sedang berdiri di pinggir alun-alun menyaksikan banteng mengamuk itu. Segera Joko Tingkir dipanggil menghadapnya.

“Kalau kau dapat mengalahkan banteng itu, aku bersedia mengampuni kesalahanmu,” kata Sultan Demak kepada JokoTingkir.

“Hamba sanggup mengalahkan banteng itu, Tuanku.” Segera ia berlutut hormat di depan Sultan Demak dan bersiap menghadapi banteng itu.

“Lihat, Joko Tingkir akan menghadapi banteng itu. la tampak gagah dan tak gentar sedikit pun!” teriak seorang prajurit Demak yang terkagum-kagum meiihatnya.

Joko Tingkir segera memasuki tengah alun-alun dan siap untuk bertempur.

Kedatangannya langsung menarik perhatian banteng ganas itu. Banteng itu mendengus dan siap menyeruduk dengan tanduknya yang tajam.

Terjadilah pertarungan yang seru antara banteng dan Joko Tingkir. Ketika banteng itu akan menyeruduk perut Joko Tingkir, tiba-tiba tangan kanan Joko Tingkir menghantam kepala banteng itu. Seketika kepala banteng itu pecah dan tubuhnya roboh tak berdaya. Darah mengucur dari kepalanya dan membasahi tanah sekitarnya.

Kemenangannya disambut dengan sorak-sorai penduduk yang menyaksikan keberaniannya. Setelah berhasil memenangkan pertarungan itu Joko Tingkir kembali menghadap Sultan Demak.

“Joko Tingkir, aku sangat berterimakasih padamu. Kau telah menyelamatkan rakyatku dari amukan banteng itu. Sesuai dengan janjiku, aku mengampuni semua kesalahanmu,” kata Sultan Demak kepada Joko Tingkir.

Selanjutnya Joko Tingkir diangkat sebagai Lurah Prajurit Tamtama. Karena tingkah lakunya sangat sopan dan bijaksana maka akhirnya Joko Tingkir diangkat menjadi menantu Sultan Demak.

Pesan moral dari Cerita Rakyat Jawa Tengah – Jaka Tingkir adalah Kita berusaha menebus kesalahan kita dengan melakukan perbuatan baik dan terpuji. Dalam hidup ini sebaiknya kita bersedia saling memaafkan kesalahan orang lain.

Cerita Rakyat Jawa Tengah – Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari

Sumber : Uniqpost.com

Disuatu desa tinggal lah seorang janda bernama mbok Randa. Disana ia tinggal bersama putranya bernama Jaka Tarub. Jaka Tarub adalah pemuda sakti yang tampan dan pekerja keras. Dia sering membantu ibunya bekerja di ladang miliknya sendiri, terkadang juga berburu dihutan.

Suami mbok Randa telah lama meninggal, sehingga ladang yang dimilikinya kini hanya digarapnya dengan putranya saja. Jaka Tarub kini telah beranjak dewasa. Mbok Randa sering meminta Jaka Tarub untuk segera menikah mengingat usianya yang telah matang, namun Jaka Tarub tidak mengiyakan keinginan sang ibu, karena Jaka Tarub masih belum berkeinginan untuk menikah.

Karena usianya sudah tua, maka mbok Randa pun mulai sakit sakitan, sampai akhirnya meninggal. Jaka Tarub yang kehilangan sang ibu kini mulai sering melamun, sampai-sampai ladang yang seharusnya digarap menjadi terbengkalai.

Suatu hari Jaka Tarub bermimpi memakan daging rusa. Dari situ keesokan harinya Jaka Tarub berburu ke hutan. Namun tak ada satu hewan pun yang dapat diburu. Jangankan seekor rusa, seekor kelinci saja tak ada.

Jaka Tarub yang kelelahan memutuskan untuk pergi ke sungai mengambil air minum. Tak disangka, Jaka Tarub bertemu dengan 7 bidadari yang sangat cantik rupanya. Jaka Tarub pun terpesona dengan keelokan wajah ketujuh bidadari tersebut.

Karena sangat tertarik, maka Jaka Tarub mengambil salah satu baju beserta selendang bidadari tersebut. Agar tidak ketahuan maka Jaka Tarub bersembunyi setelah mengambil baju dan selendang milik salah satu bidadari tersebut.

Setelah beberapa lama, tiba saatnya Bidadari-bidadari tersebut untuk pulang ke khayangan. Namun betapa terkejutnya bidadari-bidadari tersebut, karena salah satu baju dan selendang bidadari tersebut hilang.

Semua membantu mencarinya, namun tak diketemukannya baju dan selendang itu. Karna hari sudah semakin petang, keenam bidadari pun memutuskan untuk kembali ke khayangan dan meninggalkan salah satu bidadari tersebut. “Maafkan kami Nawang wulan, kami harus meninggalkanmu sendiri disini karna hari sudah semakin gelap, jika tidak kita semua tidak akan bisa kembali ke khayangan”.

Keenam bidadari tersebut pun terbang pulang kembali ke khayangan meninggalkan Nawang Wulan sendirian. Karena sudah putus asa, Nawang Wulan mengucap janji sambil menangis tersedu “Siapa pun yang menemukan bajuku bila perempuan maka akan aku jadikan saudara, bila laki-laki maka akan aku jadikan suami”.

Jaka Tarub yang mendengar janji Nawang Wulan dari tempat persembunyiannya, langsung bergegas pulang mengambil baju milik mendiang ibunya dan kemudian diserahkan kepada Nawang Wulan. Sesuai janjinya Nawang Wulan pun menikah dengan Jaka Tarub.

Mereka dikaruniai seorang putri cantik yang diberi nama Nawangsih. Setelah beberapa tahun menikah ada yang, ada yang mengganjal di hati Jaka Tarub. Jaka Tarub heran mengapa padi di lumbung tidak pernah habis, bahkan semakin banyak.

Saat Nawang Wulan pergi, Nawang Wulan menitipkan tanakan nasinya kepada Jaka Tarub. Jaka Tarub yang penasaran segera membuka tanakan nasi, betapa terkejutnya Jaka Tarub, karena ternyata Nawang Wulan hanya memasang setangkai padi.

Kecerobohan Jaka Tarub ini membuat Nawang Wulan kehilangan kekuatannya. Sekarang Nawang Wulan  harus menumbuk padi sebelum menanaknya layaknya wanita pada umumnya. Padi di lumbungpun semakin lama semakin berkurang.

Ada sesuatu yang membuat Nawang Wulan Terkejut. Baju dan selendang miliknya yang telah hilang ternyata telah dicuri oleh suaminya sendiri. Begitu marahnya Nawang Wulan pada suaminya. Akhirnya Nawang Wulan menggunakan kembali baju dan selendang miliknya lagi.

Kini giliran Jaka Tarub yang terkejut. Betapa tidak, dia sangat ketakutan sekarang karena tahu bahwa kebohongannya selama ini telah terbongkar. Nawang Wulan pun memutuskan untuk meninggalkan anak dan suaminya kembali ke khayangan.

Jaka tarub pun menyesal, meminta Nawang Wulan untuk tetap tinggal karena telah Jaka Tarub telah benar-benar mencintainya. Namun Nawang Wulan tak bisa melakukan itu, karena sudah kecewa dengan suaminya. nawang Wulan hanya akan kembali jika Nawangsih membutuhkannya.

Pesan moral dari Cerita Rakyat Jawa Tengah – Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari adalah kita belajar bahwa sebuah kejujuran itu sangatlah penting. Walaupun manis pada awalnya namun, jika sebuah kebohongan telah terungkap apa pun tujuannya, maka 

Leave a Comment